CHAPTER I
Pada padang gersang yang membakar kulit tanda zaman mulai menunjukkan pergantian menuju kengerian dunia. Musim panas berlangsung sekitar tujuh ratus tahun tanpa sedikitpun menunjukkan tanda-tanda akan adanya kemakmuran pada negeri tersebut. Peristiwa ini bermula ketika dewa perang di langit dikalahkan oleh Korgon penguasa dunia kegelapan. Sebenarnya Korgon pernah disegel oleh dewa perang sebelumnya, setelah 3 generasi dalam dunia dewa, Korgon berhasil keluar dengan memanfaatkan sifat kejahatan manusia. Saat manusia semakin tidak percaya adanya dewa semakin kuat pula kekuatan Korgon, tetapi bila sifat manusia percaya akan keberadaan dewa, malah Korgon tidak berkurang kekuatannya dan tetap kuat. Karena itu Korgon dapat keluar dengan menghancurkan segel yang dibuat dewa perang sebelumnya. Dengan kelurnya Korgon ini mengakibatkan pecahnya lapisan dunia manusia dengan dunia setan dan dunia dewa.
Dengan kemampuan Korgon, Dewa Perang berhasil dikalahkannya. Dalam kekalahan dewa perang mengakibatkan Korgon menguasai tiga dimensi tersebut. Pada saat dewa perang terjatuh tak berdaya dia terlempar ke dunia manusia. Jatuhnya dewa perang ini mengakibatkan benua terbelah menjadi 2. Hal itu menarik perhatian seorang budak muda. Dia menghampiri dan mencari tempat ledakan. Di tempat ledakan, dia menemui dewa perang yang sedang sekarat. Pada saat-saat terakhir dewa itu memuntahkan benda bercahaya dan memintah budak itu untuk menelannya. Dengan perasaan bingung dan penasaran budak itu menuruti kemauan dewa perang. Dewa perang bilang ”dengan itu kamu akan menjadi penerusku untuk menyegel bahkan membunuh Korgon”. Setelah itu dewa perang meninggal, mayatnya menjadi cahaya putih bening lalu menghilang. Budak itu pulang dengan perasaan bingung. Sesampainya di rumah, tuannya memukulinya tapi malah tuannya yang merasakan sakit. Budak itu malah bingung dan dia mencoba memukulkan tangannya kelantai, malah lantai itu berserakan hancur tak karuan. Tuannya ketakutan dan menyuruhnya untuk pergi. Budak itu bertanya ”bila saya pergi setidaknya beri saya nama sebagai orang merdeka” tuannya menjawab ”namamu sekarang adalah Breat, pergilah dan jangan kembali lagi”. Breat pergi dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri ”Siapa Korgon? Siapa orang sekarat itu? Apa yang saya telan? Mengapa banyak hal-hal aneh pada diriku”.
Ditengah padang pasir Breat menemukan sesosok petapa sakti yang dapat menghilang dan meramal masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Petapa itu bermaksud menjahili Breat tapi Breat dapat melihatnya dan Bahkan dapat menandingi kecepatannya. Petapa itu bingung dan bertanya ”mengapa kamu dapat melihatku saat aku menggunakan jurus Impossible? Dan mengapa kamu dapat menandingi kecepatanku padahal saya meminum Speedrun? Breat menjawab “saya tidak tahu, tiba-tiba saja saya seperti ini”. Petapa itu mengajak Breat ke gua tempatnya bertapa. Dengan kecepatan dahsyat mereka menuju gua tersebut. Sesampainya, petapa menawarkan keahliannya meramal orang ”hai pemuda apa kau mau kuramal?” Breat terdiam, ”tak apa biasanya saya meminta 7 ribu Zenny untuk sekali ramal, tapi untuk kamu saya beri gratis karena dilihat dari pakaian dan wajahmu kamu bukan orang yang punya uang sebanyak itu” kata petapa itu. Setelah bercakap-cakap, Breat diramal oleh petapa itu. Dengan wajah yang kaget petapa itu bersujud dan meminta maaf pada Breat. Breat bingung dan berkata ”ada apa? Mengapa tuan minta maaf padaku dan bersujud padaku?”. Petapa berkata ”ada dua hal, yang pertama jangan panggil aku tuan. Dan yang kedua ketehuilah bahwa kamu adalah calon dewa perang”. Breat bercerita hal yang pernah ia alami saat benua terbelah dan bertanya ”siapa Korgon itu?”. Dengan panjang lebar petapa menjelaskan semua hal yang membuat Breat bingung tadinya. Setelah lama becakap-cakap mereka berdua berpisah. Sebelum Breat berangkat, petapa menyarankan agar Breat mencari 3 makhluk berhati suci untuk jadi pasukan Breat. Patapa tidak menyebutkan apa dan dimana makhluk tersebut.
bersambung dulu ya...aku akan posting scara tahap...slahkan dkoment